Kembali ke Blog
Memahami Alur Peer Review Double-Blind

Editorial

Memahami Alur Peer Review Double-Blind

Dewan Reviewer NC · Reviewer18 Maret 20265 menit baca
Peer ReviewEditorialRevisi

Peer Review Double-Blind: Menjaga Mutu Ilmu dari Bias dan Nama Besar

Dalam dunia akademik, sebuah paper ilmiah tidak cukup hanya ditulis dengan rapi, penuh data, dan dihiasi daftar pustaka panjang. Sebelum ia layak disebut sebagai kontribusi ilmiah, naskah itu harus melewati satu gerbang penting: peer review. Di sanalah sebuah gagasan diuji, metode diperiksa, argumen dibongkar, dan kesimpulan ditimbang oleh sesama ahli.

Salah satu model peer review yang banyak digunakan oleh jurnal ilmiah adalah double-blind peer review. Istilah ini terdengar teknis, tetapi gagasannya sederhana: penulis tidak mengetahui siapa reviewer-nya, dan reviewer tidak mengetahui siapa penulisnya. Identitas kedua pihak disembunyikan agar penilaian terhadap paper lebih berfokus pada isi, bukan pada nama, institusi, reputasi, atau latar belakang penulis.

Mengapa Identitas Perlu Disembunyikan?

Nama besar seorang profesor dari universitas ternama bisa saja membuat reviewer lebih lunak. Sebaliknya, penulis dari kampus kecil atau institusi yang belum dikenal bisa mendapat penilaian lebih skeptis, meskipun naskahnya kuat. Ada pula kemungkinan bias berdasarkan negara, gender, afiliasi, atau bahkan topik penelitian yang sedang populer dan tidak populer.

Di sinilah double-blind review berusaha mengambil peran. Dengan menyembunyikan identitas penulis, sistem ini ingin mengatakan bahwa yang berdiri di hadapan reviewer bukanlah seseorang dengan jabatan tertentu, melainkan sebuah gagasan. Bukan nama yang diuji, melainkan argumen. Bukan reputasi yang diperiksa, melainkan metode, data, dan kontribusi ilmiah.

Cara Kerja Double-Blind Review

Dalam praktiknya, proses double-blind review dimulai ketika penulis mengirimkan naskah ke jurnal. Sebelum masuk ke tahap penilaian reviewer, editor biasanya memeriksa kelengkapan administratif, kesesuaian topik dengan fokus jurnal, format penulisan, serta potensi plagiarisme.

Jika lolos pemeriksaan awal, naskah kemudian dikirim kepada dua atau lebih reviewer yang memiliki keahlian sesuai dengan topik paper. Namun sebelum dikirim, identitas penulis harus dihapus dari dokumen. Nama penulis, afiliasi, email, ucapan terima kasih, hingga metadata file perlu dibersihkan.

Reviewer kemudian membaca naskah tersebut tanpa mengetahui siapa penulisnya. Mereka menilai apakah pertanyaan penelitian jelas, apakah metode yang digunakan tepat, apakah data cukup kuat, apakah analisis dilakukan dengan benar, dan apakah kesimpulan didukung oleh temuan.

Hasil review biasanya berakhir pada beberapa kemungkinan keputusan: diterima tanpa revisi, diterima dengan revisi kecil, diminta revisi besar, atau ditolak. Dalam banyak kasus, naskah yang baik pun tetap melewati revisi. Sebab peer review bukan hanya mekanisme seleksi, melainkan juga proses penyempurnaan.

Kekuatan Double-Blind Review

Keunggulan utama double-blind review adalah upayanya mengurangi bias. Sistem ini tidak menjanjikan penilaian yang sepenuhnya objektif, tetapi setidaknya berusaha menciptakan jarak antara kualitas naskah dan identitas penulis.

Model ini juga memberi ruang lebih adil bagi peneliti muda, dosen pemula, mahasiswa pascasarjana, atau penulis dari institusi yang belum memiliki reputasi besar. Dalam sistem akademik yang sering kali hierarkis, double-blind review menjadi semacam pagar etis: paper dari penulis baru tetap punya peluang dinilai secara serius jika substansinya kuat.

Selain itu, model ini dapat meningkatkan kepercayaan terhadap jurnal. Jurnal yang menerapkan double-blind review menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mengejar jumlah publikasi, tetapi juga menjaga proses seleksi yang lebih transparan, terukur, dan bertanggung jawab.

Namun, Sistem Ini Tidak Sempurna

Meski terdengar ideal, double-blind review bukan tanpa kelemahan. Dalam bidang yang sangat spesifik, reviewer kadang tetap bisa menebak siapa penulisnya. Misalnya dari gaya penulisan, topik yang sangat khas, dataset yang digunakan, atau rujukan terhadap karya-karya sebelumnya.

Masalah lain muncul ketika penulis tidak benar-benar melakukan anonymization dengan baik. Nama penulis mungkin sudah dihapus dari halaman pertama, tetapi masih tertinggal di bagian ucapan terima kasih, properti dokumen, nama file, atau sitasi diri yang terlalu eksplisit.

Di sisi lain, menyembunyikan identitas reviewer juga bisa menjadi pedang bermata dua. Anonimitas memberi reviewer kebebasan untuk memberi kritik jujur, tetapi dalam kasus tertentu juga dapat membuka ruang bagi komentar yang terlalu keras, tidak konstruktif, atau bahkan bias yang tidak terlihat.

Karena itu, kualitas double-blind review tidak hanya bergantung pada sistem, tetapi juga pada integritas editor, kedewasaan reviewer, dan kesiapan penulis menerima kritik ilmiah.

Kesalahan Umum Penulis dalam Double-Blind Review

Banyak penulis pemula mengira double-blind review hanya berarti menghapus nama dari halaman judul. Padahal prosesnya lebih luas. Naskah harus disiapkan agar tidak secara langsung maupun tidak langsung mengungkap identitas penulis.

Beberapa kesalahan yang sering terjadi antara lain mencantumkan nama institusi dalam bagian metode, menulis kalimat seperti “penelitian kami sebelumnya telah membuktikan…”, menyertakan tautan repositori dengan nama pribadi, atau memasukkan ucapan terima kasih kepada lembaga tertentu pada versi naskah yang dikirim untuk review.

Dalam konteks jurnal ilmiah, hal-hal kecil semacam ini dapat mengganggu prinsip anonymization. Bahkan, pada beberapa jurnal, naskah bisa dikembalikan sebelum direview hanya karena identitas penulis belum disamarkan dengan benar.

Tips Menyiapkan Paper untuk Double-Blind Review

Penulis perlu memastikan bahwa naskah utama tidak memuat nama penulis, afiliasi, email, nomor ORCID, atau informasi institusional yang mudah dilacak. Jika mengutip karya sendiri, gunakan gaya netral, misalnya “Penelitian sebelumnya menunjukkan…” bukan “Dalam penelitian kami sebelumnya…”.

Metadata dokumen juga perlu diperiksa. Pada file Word atau PDF, informasi penulis kadang masih tersimpan di properti file. Nama file pun sebaiknya dibuat netral, misalnya manuscript.pdf, bukan paper_harianto_pegadaian.pdf.

Bagian acknowledgment atau ucapan terima kasih dapat dihapus sementara dan dimasukkan kembali setelah paper diterima. Jika terdapat dataset, kode program, atau lampiran daring, pastikan tautannya tidak langsung mengarah ke akun pribadi yang menampilkan identitas penulis.

Peer Review sebagai Ruang Dialog Ilmiah

Pada akhirnya, double-blind peer review bukan sekadar prosedur administratif. Ia adalah bagian dari budaya ilmiah yang menempatkan gagasan di atas figur. Paper tidak boleh diterima hanya karena penulisnya terkenal, dan tidak boleh ditolak hanya karena penulisnya belum dikenal.

Namun sistem ini juga perlu dipahami secara proporsional. Double-blind review bukan jaminan bahwa semua bias hilang. Ia hanyalah salah satu ikhtiar untuk membuat proses penilaian lebih adil. Mutu akademik tetap bergantung pada ketelitian reviewer, kebijaksanaan editor, dan kejujuran penulis.

Dalam dunia publikasi ilmiah yang kian kompetitif, double-blind review mengingatkan kita pada satu prinsip penting: ilmu pengetahuan seharusnya tidak tunduk pada nama besar. Ia harus berdiri di atas bukti, metode, argumen, dan keberanian untuk diuji.

Ditulis oleh : Hari